Tuesday, April 21, 2015

Mendadak Garut Part 2 : Candi Cangkuang

Hai halo maaf ya kalian nunggu lama postingan mendadak garut part duanya (ngomong sama PC). Apa? Putri sok sibuk? sok nggak punya waktu? sok pura-pura punya kekasih (ini apaan dah -_-) okey aslinya emang ini tulisan udah siap rilis akhir Maret kemaren hahaha tapi karena guenya yang molor nulis terus dan terus akhirnya bablas sampe mau ke akhir April lagi (iya tonjokin aja putrinya). Pada akhirnya di hari Kartini ini gue membulatkan tekad untuk menyelesaikan tulisan mendadak garut part 2, iyadong membulatkan!catet! tekad! bukan membulatkan pipi! Percuma Ibu Kartini susah payah memperjuangkan hak para wanita di Indonesia (apa hubungannya?), anyway happy reading gaes ;)

Jum'at, 20 Februari 2015

Kemana kita hari ini? Itu yang terlintas di pikiran gue ketika pertama kali bangun dari tidur gue yang (nggak) panjang karena gue (bukan) Snow White. Tengs.
Gue tengok ke sebelah oh ternyata masih sendiri, kirain bangun tidur udah punya teman hidup *elah put lagi liburan*. Di kamar tinggal gue sendirian, Kak Lady udah bangun. Gue denger dari dalam kamar suara Dion dan Kak Lady lagi bercengkrama layaknya burung dara di iklan (emang ada?).
Kemudian dengan muka yang masih muka bantal, mungkin ilerpun masih bertengger di muka gue, gue keluar kamar. Bersiap-siap mau nyapa Dion dan Kak Lady. “Selamat paaaa…” eh omongan gue terhenti di udara ketika gue melihat pemandangan yang hasyu. Di luar kamar nggak ada orang. Eh ini pada kemana? Gue celingukan kemudian masuk kamar mandi. Dari dalam kamar mandi gue denger suara Kak Lady teriak “Yon, Yono! Ke belakang rumah yuk. Liat yang hijau-hijau. Segerrr.” Gue pun dari kamar mandi menyahut sekenanya aja karena mau sikat gigi.
“Ikuuuuttt. Kaled aku ikuuutttt!” Teriak gue. Kemudian hening. Keluar dari kamar mandi yang gue liat Dion udah bersiap-siap mau pake sendalnya dan gue tanpa babibu e o lari keluar.
Udara Jum’at pagi di Garut saat itu sangat segar. Di belakang rumah terbentang hamparan sawah yang hijau. Di depan portal masuk komplek berdiri kokoh Gunung Guntur. Ah andai Gunung Guntur tidak tutup, pengen banget rasanya langsung caw kesana.

duuuh sejuknya liat yang hijau-hijau, apalagi liat kamu


Tapi kita nggak lama di belakang rumahnya. Karena Kak Lady kebelet mau setoran dan dese nggak bisa buka kunci rumah hahahahaha.
Selesai sholat Jum’at Kang Sandy udah pulang kerja. Oh iya lupa kasih tau kalo Kang Sandy ini salah satu penjaga di Lapas Garut cieeeee. Kemudian dia menanyakan kita mau kemana hari ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Cagar Budaya Candi Cangkuang.
Candi Cangkuang adalah candi Hindu yang terdapat di Kampung Pulo wilayah Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Waktu tempuh dari rumah Kang Sandy kurang lebih 45-60 menit. Selama perjalanan ke Candi Cangkuang kami disuguhi pemandangan Garut yaitu Gunung Guntur dan bukit-bukit.
Candi Cangkuang terdapat di sebuah pulau kecil yang bentuknya memanjang dari barat ke timur dengan luas 16,5 ha. Pulau kecil ini terdapat di tengah Danau Cangkuang. Kemudian kami sampai di  Cagar Budaya Candi Cangkuang. Harga tiket masuk per orangnya Rp. 3.000,-. Cukup murah bukan.

Here We Are Gaes 


Kita tidak langsung menyebrang ke Kampung Pulo. Karena duo fotografer Dion dan Kang Sandy mau hunting foto dulu. “Sana Put kamu diri di ujung getek.”  Gue dan Kak Lady korban foto dari duo fotografer ini. Disuruh berdiri di ujung bambu yang terhubung sama getek. Elah gue tuh agak takut kalo jalan di atas air. Berasa Aang, the legend of Avatar tsaaaah.
Entahlah ada apa dengan mata mereka berdua
Mengingat waktu yang semakin sore, kami sudahi sesi foto-foto di ujung getek dan berujung dengan tawar menawar harga getek yang sangat alot. Alot banget! Kalah deh daging kerbau. Si bapak yang menyewakan getek bersih keukeh bahwa 1 orang dikenakan tarif Rp. 20.000,- bolak balik nyebrang. Alasannya karena sudah sore dan tidak ada rombongan lain. Kami bertiga hanya bisa menyimak tawar menawar tersebut dengan tatapan nggak ngerti.
Akhirnya. Iya akhirnya Kang Sandy menang. Menangis untuk tawar menawar tersebut dan dese memiliih untuk menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam Danau Cangkuang karena kalah hahaha. Kami menyerah pada harga Rp. 15.000,-/orang.
Hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit untuk menyebrang ke pulau kecil dimana di dalamnya ada Kampung Pulo dan Candi Cangkuang. 5 menit 15rebu men, dapet bakso 1 mangkok plus es teh, sakit dompet hayati.
Pas sampe di seberang, huaaaaa kok nganu ya pemandangannya. Pemandangan yang syumpah aaaaak. Kami berempat cengo, muka bego pas sampe seberang hahaha (ini lebay asli). Pasti kalian penasaran sama pemandangannya. Wait ya. Jangan kemana-mana. Stay tune! Okays!
Tji..eeeeh udah sampe sebrang tji..eeeeh
Sepertinya kami lagi dan lagi kesorean sampai di tempat wisata. Karena dalam perjalanan kami menuju candi, hampir semua toko souvenir sudah tutup. Ah tapi tak mengapa, kan jadinya syepi hahaha. Buat foto-foto enyak, endes.
Dari tempat turun getek candinya sudah keliatan. Kami kira, iya kami kira ada pintu masuk sekitar situ. Ternyata kami harus memutari kampung pulo terlebih dahulu hahaha.

Salah satu toko souvenir yang masih buka. Beli kaled beli.
Pas masuk kampung pulo rasa-rasanya seperti memasuki perkampungan betawi hehe. Disini sepi lho. Entah kaminya yang memang kesorean atau bagaimana. Yang pasti di kampung pulo ini kami hanya berempat. Tidak ada pengunjung lain. Yuhuuuuu~ bisa guling-gulingan sesuka hati sampe gumoh.
Backgroundnya Candi Cangkuang lhooo~

Di dekat candi ternyata ada makam. Syocked juga pas liatnya. Nama makamnya itu Makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Kami memang beruntung bahwa tempat wisata ini sepi, tapi kami tidak bisa tanya-tanya tentang candi ataupun makam yang ada disini, disitu kadang saya merasa sedih.

Overall Candi Cangkuang ini salah satu tempat yang recommended jika kalian berniat untuk mengunjungi kota Garut di kemudian hari. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari terminal Guntur, hanya memakan waktu sekitar 60 menit. Oh iya selepas dari Candi Cangkuang kami melanjutkan perjalanan kami ke kolam air panas yang katanya sumber airnya dari kaki Gunung Guntur. Lumayan hitung-hitung relaksasi tubuh hehe.

Tetap jaga sikap dan tata krama dimanapun kita berada ya kawan :)
Komennya jangan lupa ya reader :)

 
Salam dari Candi Cangkuang, Garut :)







Tuesday, March 3, 2015

Mendadak Garut Part 1 : Talaga Bodas

"Kamu jadi ke Jogja Put?" Tanya Kak Lady ketika makan soto ceker bersama Saya beberapa hari sebelum keberangkatan Saya ke Jogja.
"Kayaknya aku cancel deh kak." Jawabku sekenanya, maklum lagi makan ceritanya.
"Kalau begitu ikut aku aja ke Garut. Aku sekalian mau meet up sama Sandy." Sambung Kak Lady.
Kemudian mata Saya ada gambar hatinya like an emoji in whatsapp "Garuuuttt, aaaaak mauuuu! Iya aku ikut kak!"
Begitulah sepenggal cerita awal mula perjalanan ini Saya mulai.

Rabu, 18 Februari 2015

Meeting point yang dijanjikan di Terminal Kampung Rambutan jam delapan malam berubah mundur teratur menjadi jam sembilan hehehe itu semua gara-gara Saya telat datang *kemudian terdengar suara Kak Lady dan Mas Dion dari kejauhan 'semua gara-gara Putri'* Oh iya Dion juga ikut dalam perjalana kali ini lho. Jadilah kami bertiga ke Garut. Dari Terminal Kampung Rambutan kami naik bus sekitar pukul sepuluh malam. Tapi nama busnya nggak jelas. Ketika mau bayar ongkos ada yang aneh dengan tarifnya.
"Ke Garut 3 orang Rp. 195.000" Ucap sang kernet.
Kami bertiga melongo saling bertukar pandang satu sama lain. Gilak kenapa mahal banget, bathin Saya dalam hati.
"Mahal banget Pak, Rp. 150.000 deh 3 orang." Tawar Kak Lady.
"Yaudah nggak apa-apa deh iya Rp. 150.000 untuk 3 orang." Jawab si kernet santai.
Setelah membayar ongkos kemudian kami bertiga mulai memulai argumen satu sama lain tentang bus tersebut. Argumen panjang selesai ketika kami memutuskan untuk pergi ke alam mimpi masing-masing.

Sampai di Garut sekitar pukul lima pagi. Iya lima pagi. Astaghfirullah ke Garut yang normalnya empat jam, ini bisa hampir delapan jam. Semua itu tentu bukan salah Saya haha tetapi karena ada beberapa ruas jalan yang banjir sehingga menghambat jalannya kendaraan. Kemudian kami dijemput oleh Kang Sandy dan didrop ke rumahnya. Iya rumah ini yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 4 hari di Garut :)

Kamis, 19 Februari 2015 

Kamis siang, sekitar pukul dua kami bergegas untuk ke tempat wisata yang pertama yaitu Talaga Bodas. Orang awam mungkin akan mengira bahwa Talaga Bodas ini adalah Kawah Putih. Jika dilihat memang sangat mirip apalagi dari warna airnya. Talaga Bodas terletak di Desa Sukamenak Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut. Talaga Bodas berada pada ketinggian 1.512 mdpl. Dari tempat kami menginap kurang lebih 45 menit menggunakan sepeda motor. Trek untuk mencapai Talaga Bodas sedikit rusak. Banyak lubang, jika hujan turun akan sangat licin. Jadi tetap hati-hati yang guys.

Dari tempat parkir motor, kami masih harus trekking sekitar 5-10 menit untuk sampai ke talaganya. Sebenarnya ada tukang ojek yang siap mengantarkan kami jika kami mau. Tarif per orangnya 5.000. Tapi kami lebih memilih untuk jalan kaki karena kami hemat budget hahaha bukan itu juga sih tapi lebih ke menikmati alam di sekitar Talaga Bodas. Tak terasa kami sudah sampai di depan Talaga Bodas. "Wohoooo" teriak Dion kesenengan kala itu.


Here We Go, Talaga Bodas


Saya pun jatuh hati dengan foto ini sejak pertama melihatnya :D



Mungkin karena kami datangnya sudah menjelang sore jadi dengan cepat kabut pun turun menutupi talaga. Padahal kami sedang asik-asiknya menikmati pemandangan disana. Pandangan kami seketika terhalang oleh kabut. Awalnya kami kira hanya kabut biasa, ternyata tidak. Semakin lama kabut yang turun semakin tebal dan membawa rintik hujan. Kami memutuskan untuk bergegas dan membereskan barang bawaan kami.


Talaga Bodas yang tertutup kabut wiiiii

Karena letaknya yang berada di ketinggian 1.512mdpl tidak menutup kemungkinan bahwa kabut setiap saat bisa saja turun. Maka sangat disarankan jika kalian hendak pergi kesana untuk membawa sarung tangan dan jaket tebal bagi yang tidak kuat dingin. Apabila kalian mengunjungi Talaga Bodas pada saat musim penghujan lebih baik membawa payung atau jas hujan. Ingat! Keep safety first!
Saran saya jika kalian ingin mengunjungi Talaga Bodas lebih baik dibawah jam 12 siang agar bisa foto sebanyak-banyaknya hehehe dan tidak tertutup kabut. Karena Talaga Bodas menurut saya jauh lebih cantik jika dibanding Kawah Putih apabila tidak ada kabut yang menutupi.

Terima kasih Talaga Bodas atas ceritamu kala itu. Semoga secepatnya Saya bisa kembali kesana lagi. Gonna miss you TaBo :) Keep beautiful ya!^^

Talaga Bodas, Garut 19 Februari 2015




NB :
Tetaplah jaga sikap dan tata krama dimanapun kita berada. Karena alampun akan menjaga kita dengan caranya sendiri :)


Estimasi biaya :

- Bus Kp. Rambutan - Garut Rp. 50.000,-/orang
- Tiket masuk Talaga Bodas Rp. 7.000,-/orang
- Tiket kendaraan beroda dua Rp. 10.000,-













Thursday, February 26, 2015

Kenalan Sama Gembil Yuk

Gembil siapa sih? Gembil sejenis apa sih? Apakah sejenis makanan? Atau sejenis makhluk, ah sudahlah. Pelis, jangan dibayangin. Yang pasti gembil ini berwujud manusia, napak kok kakinya.

Udah cukup intermezonya hahaha sekarang perkenankan Saya mengenalkan diri Saya ke para calon pembaca blog ini (Gembil PeDe tingkat dewi).

Baiklah Gembil adalaaaah jengjengjengjeng *kamera bolak balik kayak di sinetron* Gembil adalah sesosok manusia ciptaan Allah dengan nama asli Putri Andriani Silalahi. Iya Silalahi, Saya keturunan batak-sunda, tetapi orang-orang yang melihat wujud Saya mengatakan bahwa Saya lebih mirip orang jawa hahaha hanya beberapa yang bilang saya mirip orang betawi *skip put*. Putri adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara, anak bontot lhooo tapi rasa anak pertama hahaha *curhat* dan Saya masih jomblo *eh.

Saya kenapa mulai menulis lagi ya? Ah ini semua karena teman-teman di Jalan Pendaki, mereka mengira saya sudah sering menulis di blog, padahal kenyataannya tidak. Memang Saya mempunyai blog sudah lebih dari 3 tahun lalu tapi tidak pernah Saya isi hehe.
Waktu Saya sekolah jaman SMA beberapa tahun lalu Saya suka menulis cerpen. Cerpen itu dibaca oleh teman-teman Saya, dan respon mereka positif. Mereka sering kali menagih cerpen terbaru dari Saya. Tetapi menjelang Ujian Nasional Saya stop menulis. Hingga saat membaca salah satu blog yaitu jalanpendaki.com Saya mulai merasakan semangat untuk menulis lagi. Ditambah hobi baru Saya yang sudah berjalan hampir 2 tahun yaitu jalan-jalan hehe.

Sayang rasanya jika pengalaman saat Saya jalan-jalan hanya terekam di memori otak Saya. Melalui blog ini, Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman Saya, baik dalam hal jalan-jalan ataupun hal lainnya :). Mulai dari mendaki gunung, main-main di air, ataupun sekedar bertemu kangen (?) Semoga pengalaman dan info yang Saya bagikan melalui blog ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya amiiin ^^

Aaaaaaanddd this is me, Putri *tunjuk foto dibawah* hai semuanya *melambai layaknya miss Indonesia* hahaha :p

Talaga Bodas, Garut (18 Februari 2015)